tugas sosiologi1 shadilla
Pendidikan Sosiologi
Oleh:
Shadilla Febrylian Aurellia
Nim:
170211028
TUGAS
Untuk memenuhi salah satu syarat ujian
Program Studi Ilmu Administrasi Publik
PROGRAM STUDI ADMINISTRASI PUBLIK
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BANDUNG
2017
Kata Pengantar
Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah, serta
inayah-Nya hingga saya dapat menyelesaikan tugas ini dengan judul “sosiologi dalam persfektif islam” meskipun masih banyaknya kekurangan
baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya.
Saya juga mengucapkan terimakasih banyak kepada
segenap pihak yang telah membantu dalam terselesaikannya tugas ini, terimakasih
juga saya ucapkan kepada ibu Meti Mediyastuti S.Sos , M.AP selaku dosen
pengampu dalam mata kuliah sosiologi yang telah membimbing dan membantu tugas
ini.
Demikian yang dapat saya sampaikan, semoga tugas ini
dapat bermanfaat bagi pembaca saya menyadari masih banyak kekurangan dalam
tugas ini, untuk itusaya mengharapkan kritik dan saran agar ledepannya lebih
baik lagi.
Bandung,
04 November 2017
Shadilla
Febrylian Aurellia
Kata pengantar .................................................................................2
Bab 1 Pendahuluan...........................................................................4
1.1
Latar belakang...........................................................................................5
1.2
Rumusan
masalah.....................................................................................5
1.3 Tujuan .......................................................................................................5
Bab 2 Pembahasan
A. Pengertian sosiologi...............................................................................6
B. Agama dalam perspektif
sosiologis......................................................................................................7-9
C. Sosiologi dalam persfektif islam................................................................................................................9
D.
Signifikasi
dan Kontribusi Pendekatan Sosiologi dalam Studi Islam..........................................................................................................10-12
Bab 3 Penutup
Kesimpulan........................................................................................13
Daftar pustaka....................................................................................14
Pendahuluan
Dengan menyebarnya kaum
muslimin di berbagai wilayah, dengan terbentuknya kaum muslimin sebagai
masyarakat sosial, maka secara otomatis kajian-kajian ke-Islaman, khususnya
tentang masyarakat kaum muslimin layak untuk didekati dengan pendekatan
sosiologis. Karena sosiologi itu sendiri merupakan ilmu yang berkenaan dengan
masyarakat sosial, hubungan yang terjadi di dalamnya dan pengaruhnya kepada
struktur masyarakat tersebut. Islam memang tidak akan dapat
dipahami dengan universal dan humanis tanpa mendekatinya dengan pendekatan
sosiologis. Beberapa gejala dalam masyarakat kaum muslimin, selain juga bisa
didekati dengan beberapa pendekatan lain, tentu menyediakan ruang untuk dikaji
dengan pendekatan sosiologis. Karena banyak bidang kajian agama yang baru dapat
dapat dipahami secara proporsional dan tepat apabila menggunakan jasa bantuan
sosiologi, di sinilah letaknya sosiologi sebagai salah satu instrumen dalam
memahami ajaran agama
1.1 Latar Belakang
Hakikat manusia menurut
islam adalah makhluk (ciptaan) tuhan, hakikat wujudnya bahwa manusia adalah
makhluk yang perkembangannya dipengaruhi oleh pembawaan dan lingkungan manusia
sempurna menurut islam adalah jasmani yang serta kuat dan berketerampilan,
cerdas serta pandai. Tujuan umum pendidikan islam ialah terwujudnya manusia
sebagai hamba Allah.jadi menurut islam , pendidikan haruslah menjadikan seluruh
manusia yang menghambakan kepada Allah. Yang dimaksud menghambakan diri ialah
beribadah kepada Allah.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Apa itu sosiologi ?
1.2.2 Bagaimana pandangan Agama dalam perspektifsosiologis?
1.2.3 Bagaimana Sosiologi memandang dalam
persfektif islam?
1.2.4 Apa
saja Signifikasi dan Kontribusi Pendekatan Sosiologi dalam Studi Islam ?
1.3
Tujuan
1.3.1 Agar dapat menganalisis proses sosialiasi
1.3.2 agar tahu kedudukan pendidikan dalam
masyarakat
1.3.3 sebagai analisis sosial disekolah dan antara sekolah dengan masyarakat
1.3.4 sebagai
sosiologi terapan
1.3.5 sebagai
alat kemajuan dan perkembangan sosial
1.3.6 sebagai
latihan bagi petugas pendidikan
Pengertian Sosiologi
Secara etimologi, kata
sosiologi berasal dari bahasa Latin dari kata “socius” yang berarti teman dan
“logos” yang berarti berkata atau berbicara. Jadi sosiologi artinya berbicara
tentang manusia yang berteman atau bermasyarakat.
Secara terminologi,
sosiologi adalah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial
termasuk perubahan-perubahan sosial. Adapun objek sosiologi adalah masyarakat yang
dilihat dari sudut hubungan antara manusia dan proses yang timbul dari hubungan
manusia dalam masyarakat. Sedangkan tujuannya adalah meningkatakan daya atau
kemampuan manusia dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan hidupnya.
Sosiologi adalah
kajian ilmiah tentang kehidupan sosial manusia yang berusaha mencari tahu
tentang hakekat dan sebab-sebab dari berbagai pola pikiran dan tindakan manusia
yang teratur dapat berulang. Berbeda dengan psikologi yang memusatkan
perhatiannya pada karakteristik pikiran dan tindakan orang per-orangan,
sosiologi hanya tertarik kepada pikiran dan tindakan yang dimunculkan seseorang
sebagai anggota suatu kolompok atau masyarakat.
Namun perlu diingat
bahwa sosiologi adalah disiplin ilmu yang luas dan mencakup banyak hal, dan ada
banyak jenis sosiologi yang mempelajari sesuatu yang berbeda dengan tujuan
berbeda-beda.
Selain itu, sosiologi
juga merupakan sebagai studi sistematis mengenai keadaan kelompok dan masyarakat
serta gejala-gejalanya yang saling berhubungan dan saling mempengaruhi
setiap tindakan. Sosiologi tidak membahas individu, akan tetapi lebih kepada
gejala-gejala sosial yang berdasar pada penjelasan sejarah, peristiwa dan
kehidupan nyata. Dalam hal ini Maijor Polak juga mensinyalir bahwa
sosiologi sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari masyarakat sebagai
keseluruhan, yakni antar hubungan di antara manusia dengan manusia lainnya,
manusia dengan kelompok, kelompok dengan kelompok, baik formil maupun materil,
baik statis maupun dinamis.
Agama Dalam
Perspektif Sosiologis
Namun kini
segelintir manusia telah mencoba untuk menenggelamkan Agama menjadi sebuah
barang antik yang sifatnya hanya untuk di pajang dan dikenang. Hal ini di
sebabkan antara lain oleh, telah terlalu lamanya Agama mengiringi kehidupan
manusia. Sehingga Agama di anggap sebagai sesuatu yang kuno. Dan dikhawatirkan
Agama tidak akan sanggup mengikuti perkembangan zaman. Dan kebutuhan-kebutuhan
manusia yang semakin beraneka ragam. Selanjutnya, sebagai manusia yang
menyetujui hal ini beranggapan bahwa kini telah terdapat alternatif lain untuk
menggatikan peran Agama, yaitu, teknologi. Agama yang selalu membicarakan
hal-hal yang sifatnya eskatologis akan dengan mudahnya digantikan oleh
tehnologi yang dipastikan hanya akan membicarakan hal-hal yang sifatnya logis.
Namun
ternyata anggapan semacam ini adalah anggapan yang sepenuhnya keliru, karena
nyatanya hingga kini Agama menjadi sesuatu yang tak terpisahkan dalam tiap
sendi kehidupan manusia. Bahkan manusia yang menganggap dirinya sebagai manusia
yang paling modern sekalipun tak lepas dari Agama. Hal ini membuktikan bahwa
Agama tidaklah sesempit pemahaman manusia mengenai kebenaranya. Agama tidak
saja membicarakan hal-hal yang sifatnya eskatologis, malahan juga membicarakan
hal-hal yang logis pula. Agama juga tidak hanya membatasi diri terhadap hal-hal
yang kita anggap mustahil. Karena pada waktu yang bersamaan Agama juga
menyuguhkan hal-hal yang riil. Begitulah Agama, sangat kompleks
sehingga betul-betul membutukan mata yang sanggup “melek” (keseriusan)
untuk memahaminya. Dari perpektif antropology sendiri melihat Agama atau
menafsirkan Agama adalah: merupakan sebuah sistem budaya, dimana setiap
sistemnya terdapat unsur yang memungkinkan terbentuknya sebuah sistem itu.
Antropologi memandang sebuah hal penting dari terbentuknya sistem
budaya ini.
Yakni sistem gagasan yang mendasari terbentuknya sistem budaya “beragama” ini.
Sistem gagasan inilah yang akhirnya menuntun pemikiran manusia hingga menuju
pada Tuhan yang nantinya akan di sembah. Agama di sebut sebagai sebuah sistem
budaya karena Agama merupakan sebuah hasil dari “sistem gagasan” manusia
terdahulu. Sistem gagasan disini bermaksud. Bahwa masyarakat primitif dahulu
mengunakan Agama sebagai “alat” penjelas terhadap fenomena-fenomena alam yang
terjadi, lambat laun manusia primitif menganggap bahwa segalanya memiliki ruh.
Segala fenomena yang disaksikan dan yang mereka nisbahkan pada ruh. artinya
dengan demikian, manusia primitif dapat menafsirkan fenomena-fenomena yang ada
diartikanya seperti banjir, gempa, dan lainya dengan padangan tersebut. Sedangkan
bagi Max Weber melihat gejala Agama adalah: Tuhan tidak ada dan hidup
untuk manusia, tetapih manusialah yang hidup demi Tuhan. Lebih jauh mengenai
masalah ini, dijelaskan bahwa menjalankan praktek-praktek keAgamaan merupakan
upaya manusia untuk merubah Tuhan yang irasional menjadi rasional. Semakin kita
menjalankan peritah-perintah Tuhan maka akan semakin terasa kedekatan kita
terhadap Tuhan. Berbeda lagi dengan pendapatnya Emile Durkhem yang
menyatakan bahwa Agama secara khas merupakan permasalahan sosial, bukan
individual. Karena yang empirik (pada saat itu) Agama di praktekkan dalam
ritual upacara yang memerlukan partisipasi anggota kelompok dalam
pelaksanaanya. Sehingga yang nampak saat itu adalah Agama hanya bisa
dilaksanakan pada saat berkumpulan dangan angota sosial, dan tidak bisa
dilakukan tiap individu.
Cliford Geertz yang melalui
penelitian yang di lakukannya di Mojokuto mulai Mei 1953-September 1954,
membagi Agama masyarakat Jawa hanya menjadi tiga bagian, yakni: kalangan “Priyayi,
Santri, dan Abangan”. Hal ini disebabkan karena penekanan yang
dilakukan oleh Geertz adalah masalah komplesitas yang ada pada
masyarakat Jawa. Dengan pengelompokan ini, yakni: Priyayi, santri,
abangan.
Dalam Sosiologis, Agama dipandang
sebagai sistem kepercayaan yang diwujudkan dalam perilaku sosial tertentu.
Berkaitan dengan pengalaman manusia, baik sebagai individu maupun kelompok.
Oleh karena itu, setiap perilaku yang diperankan akan terkait dengan sistem
keyakinan dari ajaran Agama yang dianut. Perilaku individu dan sosial
digerakkan oleh kekuatan dari dalam yang didasarkan pada nilai-nilai ajaran
Agama yang menginternalisasi sebelumnya. Manusia, masyarakat, dan kebudayaan
berhubungan secara dialektik. Ketiganya berdampingan dan berhimpit saling
menciptakan dan meniadakan. (Dadang Kahmad; 2000).
Agama
dalam perjalananya biasanya tidak hanya dijadikan sebagai kebenaran yang
diyakini dan dipahami, tetapi sebisamungkin kebenaran Agama itu juga dapat
dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari, baik melalui sikap, perilaku, atau
tindakan. Manusia dikatakan sebagai manusia yang sebenarnya apabila ia menjadi
manusia yang etis yakni manusia yang secara utuh mampu memenuhi hajat hidup
dalam rangka mengasah keseimbangan antara kepentingan pribadi dengan
kepentingan sosial, antara jasmani dan rohani, antara makhluk berdiri sendiri
dan dengan KhalikNya. Hal ini terjadi karena hidup manusia
mempunyai tujuan terakhir, yang lebih baik dan tertinggi dalam rangka
mendapatkan kebahagiaan sempurna. Manusia sebagai objek material, etika dalam
melakuan tindakan-tindakan etis tentunya membutuhkan arahan-arahan untuk
mencapai kebahagiaan sempurna itu. (Heniy Astiyanto 2006:287).
Bagi Karl Marx: agama
adalah sebagai alat melegitimasi kepentingan dunia, & agama membawa
keterasingan (agama adalah Candu). Gramcie: Agama sebagai generator pengerak,
(agama melakukan perubahan sosial) berlawanan dengan Marx. Durkhem: Agama
sebagai alat perekat. (totem:sesuatu yang suci) Berlawanan dengan Marx.
Albert Einstein: Ilmu tampa Agama buta, dan agama tampa ilmu adalah
lumpuh. Dan Nurcholish Madjit: agama adalah sikap pasrah kepada Allah, Tuhan
Yang Maha Esa, pencipta seluruh langit dan bumi
Sosiologi dalam
Persfektif Islam
Dalam kaitannya dengan studi agama (Islam) sebagai
gejala sosial, pada dasarnya bertumpu pada konsep sosilogi agama. Awalnya
sosiologi agama mempelajari hubungan timbal balik antara Agama dan masyarakat.
Belakangan sosiologi agama mempelajari bagaimana agama mempengaruhi masyarakat
dan bisa juga sebaliknya, bagaimana masyarakat mempengaruhi konsep agama. Dalam kajian sosiologis agama dapat
berposisi independent variable maupun dependent variable. Sebagai dependent
variable berarti agama dipengaruhi faktor unsur lain. Sementara sebagai
independent variable berarti Islam mempengaruhi faktor/unsur lain.Misalnya
contoh dependent variable adalah bagaimana budaya masyarakat Yogyakarta
mempengaruhi resepsi perkawinan Islam ( muslim Yogyakarta). Kemudian Islam
sebagai independent variable adalah bagaimana Islam mempengaruhi tingkah laku
muslim Yogyakarta.
Melalui
pendekatan sosiologis, agama akan dapat dipahami dengan mudah, karena agama itu
sendiri diturunkan untuk kepentingan
sosial, Dalam Al-qur’an misalanya kita jumpai ayat-ayat yang berkenaan dengan
hubungan manusia dengan manusia lainnya,sebab-sebab yang menyebabkan terjadinya
kemakmuran suatu bangsa,dan sebab-sebab yang menyebabkan terjadinya
kesengsaraan. Semua itu jelas baru dapat dijelaskan apabila yang memahaminya
mengetahui sejarah sosial pada saat ajaran agama itu diturunkan
Signifikasi dan Kontribusi Pendekatan Sosiologi
dalam Studi Islam
Pendekatan
sosiologi dalam studi Islam, kegunaannya sebagai metodologi untuk memahami corak
dan stratifikasi dalam suatu kelompok masyarakat,yaitu dalam dunia ilmu pengetahuan, makna dari istilah pendekatan sama denganmetodologi, yaitu sudut pandang atau cara melihat atau
memperlakukan sesuatuyang menjadi perhatian atau masalah yang dikaji Selain itu, makna metodologi juga mencakup berbagai
teknik yang digunakan untuk memperlakukan penelitianatau pengumpulan
data sesuai dengan cara melihat dan memperlakukan sesuatu permasalahan atau teknik
teknik penelitian yang sesuai dengan pendekatan tersebut.
Kegunaan yang berkelanjutan ini adalah untuk dapat mengarahkan dan menambah keyakinankeyakinan keIslaman yang dimiliki oleh kelompok
masyarakat tersebut sesuai dengan ajaran agama Islam tanpa menimbulkan
gejolak dan tantangan antara sesama kelompok masyarakat.
Seterusnya
melalui pendekatan sosiologi ini dalam studi Islam, diharapkan pemeluk agama Islam
dapat lebih toleran terhadap berbagai aspek perbedaan budaya lokal dengan
ajaranagama Islam itu sendiri.Melalui pendekatan sosiologi sebagaimana tersebut
diatas terlihat
dengan jelas hubungan agama Islam dengan berbagai masalah sosial dalam kehidupankelompok
masyarakat, dan dengan itu pula agama Islam terlihat akrab fungsionaldengan
berbagai fenomena kehidupan sosial masyarakat.Dari sisi lain terdapat
pula signifikasi pendekatan Islam dalam sosiologi,salah satunya adalah dapat
memahami fenomena sosial yang berkenaan denganibadah dan muamalat. Pentingnya
pendekatan sosiologis dalam memahami agama
dapat dipahami karena banyak sekali ajaran agama yang berkaitan denganmasalah
sosial. Besarnya perhatian agama terhadap masalah sosial ini,selanjutnya mendorong agamawan memahami ilmu-ilmu sosial sebagai alat memahamiagamanya. Dalam bukunya
yang berjudul Islam alternatif. Jalaluddin Rahmattelah
menunjukkan betapa besarnya perhatian agama yang dalam hal ini adalahIslam
terhadap masalah sosial, dengan mengajukan lima alasan Sebagai berikut:
·
pertama
Dalam
Qur’an atau kitab Hadis, proporsi terbesar kedua
sumber hukum Islam
ituberkenaan denganu rusan muamalah Sedangkan menurut Ayatullah Khoemeini dalam bukunya al-Hukumah
al-Islamiyah,yang dikutipoleh Jalaluddin Rahmat dikemukakan bahwa perbandingan antara ayat-ayatibadah dan
ayat-ayat yang menyangkut kehidupan sosial adalah
satu berbandingseratus. Artinya untuk satu ayat ibadah, ada seratus ayat muamalah (masalahsosial).
·
Kedua
bahwa
ditekankannya masalah muamalah atau sosial dalam Islamialah adanya kenyataan
bahwa bila urusan ibadah bersamaan waktunya
denganurusan muamalah yang penting, maka ibadah boleh diperpendek atauditangguhkan (bukan ditinggalkan) melainkan tetap dikerjakan sebagaimanamestinya.
·
Ketiga
bahwa ibadah yang mengandung segi kemasyarakatan diberiganjaran
lebih besar dari ibadah yang bersifat perseorangan. Karena itu shalatyang dilakukan secara berjamaah dinilai lebih
tinggi nilainya daripada shalat yangdikerjakan sendirian dengan ukuran satu
berbanding dua puluh tujuh derajat
·
Keempat
dalam Islam terdapat ketentuan
bila urusan ibadah dilakukantidak
sempurna atau batal, karena melanggar pantangan tertentu, maka kifaratnyaialah melakukan sesuatu yang berhubungan dengan
masalah sosial. Bila puasatidak mampu dilakukan misalnya, maka jalan
keluarnya; dengan membayar fidyahdalam bentuk memberi makan bagi orang miskin.
·
Kelima
Dalam Islam terdapat ajaran bahwa amal baik dalam bidang
kemasyarakatan mendapat ganjaran lebih besar dari pada ibadah sunnah. Demikian sebaliknya sosiologi memiliki kontribusi dalam bidang
kemasyarakatanterutama bagi orang yang berbuat amal baik akan mendapatkan
status sosial yanglebih tinggi ditengah-tengah masyarakat, secara langsung hal
ini berhubungandengan sosiologi.Berdasarkan pemahaman ke lima alasan di atas,
maka melalui pendekatansosiologis, agama akan dapat dipahami dengan mudah,
karena agama itu sendiriditurunkan untuk kepentingan sosial. Dalam al-Qur’an misalnya dijumpai ayat-ayat berkenaan dengan hubungan
manusia dengan manusia lainnya, sebab-sebabyang
lainnya, sebab-sebabyang menyebabkan terjadinya
kemakmuran suatu bangsa dan sebab-sebab yang menyebabkan terjadinya
kesengsaraan. Semua itu hanya baru dapat
dijelaskanapabila yang memahaminya mengetahui sejarah sosial pada ajaran agama itu
diturunkan
Bab 3 Penutup
Kesimpulan
Beberapa objek pendekatan sosiologi yang digunakan oleh para sosiolog ternyata menghasilkan cara untuk memahami agama dengan mudah. Selain itu memang menurut beberapa sosiolog dan ahli metodologi studi-studi ke-Islaman bahwa agama Islam itu sendiri sangat mementingkan peranan aspek sosial dalam kehidupan beragama. Karena objek sosiologi adalah masyarakat maka ilmu ini sangat cepat berkembang dan bercabang kepada bidang - bidang keilmuan lainnya, sosiologi hukum,sosiologi perkotaan, sosiologi pedesaan, sastra dan lain sebagainya, dan tidak menutup kemungkinan bahwa cabang-cabang sosiologi akan bertambah. Kajian-kajian ke-Islaman yang menggunakan pendekatan sosiologi sangat menarik dan lebih dapat mendekatkan pemahaman terhadap universalitas ajaran Islam itu sendiri
Daftar
pustaka
M. Deden Ridwan, (ed), Tradisi Baru Penelitian Agama
Islam Tinjauan Antar Disiplin Ilmu(Bandung: Nuansa, 2001)
Jalaluddin
Rahmat, Islam alternatif (Bandung : Mizan, 1986),
Hussein Bahreisi, Hadits Bukhari-Muslim(Surabaya
: Karya Utama, tt),
Abuddin Nata, Metodelogi Studi Islam
M. Deden Ridwan, (ed),Tradisi Baru
Penelitian Agama Islam Tinjauan Antar Disiplin Ilmu (Bandung: Nuansa, 2001)
Good job...noted
BalasHapusMasukan saja untuk rumusan masalah dan tujuan harus lebih saling berkaitan, sehingga pembahasannya akan lebih terarah sesuai dengan temanya
BalasHapus